Hanya
berupa karang, katanya. Hatiku sekeras karang, katanya.
...meskipun rela, hati ini sakit,
katanya.
---
Jonah
duduk di bangku di depan teras mall, menatap langit malam yang mendung.
Bintang-bintang bersembunyi jauh di balik awan, bersembunyi dari tatapannya
malam ini. Ia mengrenyutkan dahi, lalu meniup kosong ke arah langit.
“Hari
ini bakal cerah, katanya.” Ia menyeru pelan sambil tetap menatap langit.
Setitik air mengenai keningnya. Ia berkedip, lalu mengelap tetesan air itu
dengan tangan kanannya. Sambil melihat bercak lembab bekas air itu, ia
menyipitkan matanya. “Malah mau hujan.” Ujarnya agak kesal.
Mall
pada malam itu terasa sepi. Meskipun banyak orang berlalu lalang, menelepon,
bergandengan, bercengkerama, berlarian, namun Jonah merasa kesepian. Diperhatikannya
tiap orang yang datang, lalu lalang, berjalan, retinanya mengikuti tiap
gerakan, tiap ucapan, mencoba fokus ke sesuatu yang ia tidak tahu apa.
Membosankan, memang. Tapi untuk malam ini, apa boleh buat.
Starbucks
di lantai atas masih buka, tapi masih penuh juga. Sisa kopi yang ia beli
barusan sekarang sudah habis. Ditatapnya baik-baik gelasnya, ah, masih ada
sisa. Diangkatnya gelasnya ke atas, dan diminum habis sisanya sampai tidak
bersisa sama sekali.
“Oke,
deh. Sekarang apa.” Ucapnya sambil melempar gelasnya ke bak sampah di
sampingnya, tepat sasaran. Ia memperhatikan sekeliling, tidak ada yang spesial.
Dirinya sendirian disini, di mall, tanpa ada seorangpun yang mempedulikannya. Heck, siapa yang mau peduli pada
laki-laki tidak dikenal, duduk sendirian, menjauh dari kerumunan? Kalau
siapapun pakai logika, mana ada yang mau duduk dekat dengannya?
Lalu
matanya tertuju pada sebuah mobil-mobilan yang berjalan di depannya. Maju
mundur. Tidak jelas. Jonah menaikkan alis matanya, lalu menatapi mobil itu baik-baik.
Mobil itu mengubah arah jalannya, dan kini lurus menghadap Jonah. Dan kemudian
berjalan tersendat-sendat ke depan, ke arah Jonah yang kebingungan menatapinya.
Apaan nih? Benaknya ringan. Hingga
saat mobil-mobilan itu menabrak kecil ke sendalnya, ia menatapinya dengan
tenang. Ia meraih mobil-mobilan itu, lalu mengamatinya dengan seksama. Ah, mobil remote control. Roda mobil itu terus berputar meski ia telah
mengangkatnya. Berarti ada yang mengendalikan. Ia mengamati sekeliling, mencari
siapapun yang sekiranya terlihat memegang sebuah remote control. Namun tidak ia
temukan satu orangpun yang seperti itu. Ia kembali melemparkan pandangannya ke
arah mobil-mobilan itu dan menaruhnya ke lantai. Mobil itu mulai berjalan
mundur, dan pandangan Jonah mengikutinya dengan pelan. Sampai mobil itu berhenti
di dekat sepasang kaki mungil yang merapat, Jonah tertegun.
“Lho?”
ucapnya. Ditariknya pandangannya ke atas, melihat siapa pemilik kaki mungil
itu. Seorang gadis. Kulitnya putih, rambutnya hitam panjang terurai, jaket kain
kebesarannya menutupi sedikit badannya, membuatnya terlihat semakin mungil. Ia
menatapi Jonah dengan matanya yang sipit, seperti kenal.
“...Halo?”
Jonah mencoba bercakap. Gadis itu tersenyum. Ia lalu berjalan mendekati Jonah
setelah mengambil mobil-mobilannya, dan kemudian menaruhnya di pangkuan Jonah.
“I..ini apaan?” Jonah kebingungan. Gadis itu kembali tersenyum, lalu menarik
nafasnya dan menghembuskannya dengan pelan. Suara hembusan nafasnya seperti
menghela sehabis berlarian lama.
“Selamatin
aku dong.” Katanya membalas sapaan Jonah. Agak tidak nyambung juga.
“Selamatin?”
“Iya.”
Jonah
menaruh mobil-mobilannya di sampingnya. “Selamatin apaan?”
“Selamatin
aku. Tolong aku.”
Jonah
mengerenyutkan dahinya pelan-pelan. Apa maksud gadis ini, meminta tolong
diselamatkan seperti itu? Oi oi, ini
bukan film horror kan? Gadis ini bukan hantu kan?
“Maaf,
aku nggak nge...”
Sebelum
Jonah selesai berkata-kata, gadis itu mengambil mobil-mobilannya dan menarik
tangan Jonah, lalu membawanya lari. Jonah yang tidak mengerti apa-apa tidak
melawan. Kakinya seakan melangkah mengikuti lari gadis itu, tanpa paksaan.
Mungkin kebosanan ini sudah menjalar ke tubuhnya, sehingga kemanapun angin
menarik tangannya, okelah, pikirnya.
“Namaku
Cendana, seorang putri raja.” Gadis itu berkata dalam langkah larinya.
“Sekarang lindungi aku, ya!”
Tentu
saja Jonah semakin linglung. Dalam langkahnya yang tergesa-gesa, ia tidak
berfikir jernih. Namun otaknya cukup cemerlang untuk berfikir bahwa kata-kata
‘putri raja’ itu berlebihan. Sembari berlari, ia memperhatikan gadis itu.
Tingginya hanya sepundaknya. Rambutnya yang panjang dan hitam mengibas-ngibas
sembari ia berlari. Langkah mereka berdua terdengar keras menghantam keramik
mall ketika mereka berlari di hall,
berhenti sejenak dan memperhatikan sekeliling, mencari jalan keluar. Lalu
kebingungan.
“Wah,
lewat mana ya?” Cendana terlihat kebingungan. Tangannya masih menggenggam erat
Jonah. Jonah tertegun sejenak, lalu menyadari langkah kaki tergesa-gesa dari
kejauhan. Dua orang pria tinggi besar, berpakaian hitam dan memakai coat gelap, bertopi bundar mengejar
mereka.
“Dua
orang itu kenalan kamu?” Jonah menunjuk ke arah dua orang itu.
“Walah-dalah! Mereka itu yang ngejar, ayo
lari!” Cendana semakin panik. Jonah langsung bergantian menarik tangan Cendana
ke kerumunan, menghindari pengejar mereka. Dua pria itu terlihat sadar, lalu
semakin mempercepat kejaran mereka. Jonah menarik Cendana menaiki eskalator
arah turun, hanya itu jalan yang tersedia di depan. Dengan lambat mereka
berlari ke atas melawan arus, sedangkan dua orang pengejar itu tepat di belakang
mereka, masih mengejar.
Jonah
dan Cendana masuk ke dalam toko baju, dan bersembunyi di balik pakaian. Mereka
mencoba mengatur nafas, meskipun Cendana terlihat lelah dan nafasnya tidak
beraturan.
“Jangan
bersuara.” Bisik Jonah.
Dua
orang berpakaian hitam tadi berhenti di depan toko, dan terlihat bingung.
Keduanya berdebat, lalu berlari ke arah berlawanan. Beberapa saat kemudian,
Jonah dan Cendana keluar berbarengan. Tangan Jonah masih menggenggam erat
tangan Cendana. Ketika sadar, keduanya saling melepaskan. Lalu saling menatap,
dan canggung sendiri.
“Makasih.
Aku kira mereka bakal nangkap aku.” Cendana menghela nafasnya. Jonah masih
terengah-engah, dan menatap Cendana yang bedanya, nafasnya sudah teratur.
“Mereka
siapa? Kamu siapa?” Jonah bertanya dengan tergesa-gesa ditengah nafasnya yang ngos-ngosan. Keringatnya mengalir pelan,
sebagian sudah agak kering akibat AC. Mendengar itu, Cendana menyipitkan
matanya.
“Aku
ini seorang putri raja.” Jawabnya santai. Jonah tertegun konyol.
“Putri
raja.”
“iya!”
Jonah
mengurut dahinya, menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya pelan.
Keringatnya sudah berhenti mengalir. “Putri raja.” Ucapnya lagi. Kali ini
sambil tersenyum.
“Kamu...nggak
percaya?”
“Sudah
deh, konyol banget.” Jonah berbalik badan, lalu pergi sambil tertawa ringan. Cendana menghentakkan kakinya, menyipitkan
matanya, lalu menggembungkan pipinya dengan kesal. “Jangan bercanda
sembarangan.” Jonah berucap dari kejauhan. Cendana melangkah dengan kesal, tiap
langkahnya berbunyi tanda ia menghentakkannya dengan cukup keras. Lalu diangkatnya
tangannya tinggi-tinggi, dan dengan sekelebat, bagian dalam tangannya menghantam
kepala Jonah.
Geplak.
“Aduh!”
Jonah mengerang. “Apa-apaan nih!”
“Aku
minta tolong itu sungguh-sungguh, dan kata-kataku juga sungguh-sungguh. Jangan
ditertawakan!”
“Apanya
yang jangan ditertawakan? Jelas-jelas kamu ngaku putri raja, apaan putri raja,
kamu mimpi? Ini bukan mimpi siang bolong namanya, tapi mimpi malam dijahit!”
“Jangan
pakai perumpamaan yang ngebingungin, sekarang aku minta tolong ke kamu,
selamatkan aku. Lalu kita bicarakan hadiahnya.”
“Hadiah
ap...”
Cendana
kembali menggeplak kepala Jonah.
Plak.
“Hei!”
Seru Jonah sehabis kata-katanya terpotong akibat hantaman itu. Ringan, tapi
cukup untuk membuat seorang Jonah kehabisan rasa sabar.
“Aku
nggak bakal memohon. Tapi permintaan ini sungguh-sungguh.” Cendana terlihat
berkaca-kaca. Tangannya menggenggam erat, nafasnya menghela berat berkali-kali.
Terlihat jelas kalau ia menahan kekesalannya untuk hal yang lain, bukan Jonah.
Dan Jonah, hanya menghela nafas.
“Baiklah...”
sahut Jonah. Wajah Cendana langsung berseri-seri. “Aku sudah kehabisan akal
untuk ngelewatin malam ini sendirian. Mending kayak gini aja, seru-seruan
sedikit.”
“.......”
Cendana tertegun. “Kamu mau bantu?”
“Iya.”
“Serius?”
“Tiga
rius.”
Cendana
dan Jonah saling berpandangan sejenak. Cendana terlihat lega sambil bibirnya
berbuka sedikit, dahinya mengerut. Jonah terdiam sambil sesekali mengalihkan
pandangannya ke tempat lain, menghindari kontak mata.
“Makasih...”
lanjut Cendana. “Kamu orang pertama yang percaya padaku.”
Jonah
terdiam, mencoba mencerna kata-kata Cendana dalam-dalam. Dunia berhenti
sejenak. Sekeliling mereka terasa grayscale,
hitam-putih dengan mereka sebagai centernya,
berdua berwarna. Panas pengap tak lagi terasa, angin dingin apalagi. Cendana
memandang Jonah dalam-dalam dengan mata mungilnya yang manis. Wajahnya
menggambarkan kelegaan, seakan akhirnya ia menemukan orang yang bisa
mendengarkannya bercerita setelah sekian tahun.
“Pokoknya,
sekarang kita lari dulu.” Jonah menarik tangan Cendana lalu berlari ke dalam
kerumunan. Cendana masih diam mengikuti. Grayscale
berubah menjadi berwarna kembali, suasana kembali normal. Serasa dunia
kembali berbicara pada mereka, langkah semakin dipercepat.
Jonah
membawa Cendana naik ke lantai tiga, masuk ke dalam bioskop. Mereka berhenti di
dekat jendela, lalu saling menarik nafas lega.
“Sepertinya
mereka sudah nggak ngejar lagi.” Jonah berkata. Cendana menoleh, lalu
tersenyum.
“Kayaknya,
sih.”
“Senang,
ya. Dibawa lari sama orang yang nggak kamu kenal. Dasar anak kecil.”
“Anak
kecil?” Cendana merengut. “Aku ini lebih tua dari kamu!”
Jonah
kaget. Umurnya 22 tahun, berarti anak ini 24? 26? Wajahnya masih muda begitu.
Tanpa sadar ia membiarkan mulutnya terbuka lebar. Cendana menutup mulut
Jonathan, dan dengan konyolnya kembali menggeplak kepala Jonah dengan keras
hingga ia sadar.
“Whoa!
Bentar, bentar, bentar...kamu lebih tua dari aku?” Jonah mengangkat kedua
tangannya ke depan badannya sambil memundurkan kepalanya sedikit.
“Iya.”
Cendana mengangguk santai. “kaget kan?”
Kali
ini Jonah yang mengangguk. “24, gitu?”
“Sedikit
lebih tua, tapi 24 juga nggak apa-apa kok.”
“Udah
tante-tante dong.”
“Eh,
sembarangan!”
Cendana
melempar-lemparkan kakinya pelan ke depan sambil tangannya saling bertaut di
belakang. Wajahnya terlihat bosan. Tidak lelah, namun bosan. Jonah menghela
nafas. Mungkin benaknya, ia bisa melanjutkan lagi permainan ini. Terlepas dari
sungguhan atau tidaknya. Tapi semuanya terasa membingungkan.
Tiba-tiba
kedua orang yang mengejar mereka tadi muncul dari kejauhan, dari dalam lift.
“Itu
mereka!” seru salah satunya. Jonah membelalak kaget.
“Kecebong
dugem! Kita kedapetan! Ayo lari!” Jonah menggenggam tangan Cendana lalu
menariknya lari bersamanya. Cendana terkejut sedikit, lalu ia tertawa
terbahak-bahak. Jonah menyusul dengan tawa lepasnya. Mereka berdua seakan tidak
peduli dengan langkah yang semakin cepat dan nafas yang memacu, mereka terus
berlari sambil tersenyum dan tertawa lepas. Ini pertama kalinya, sejak putus
dari pacarnya, Jonah tertawa terbahak-bahak.
“Aku
yakin kamu bisa ngerelain dia untuk masa depan yang lebih baik.” Cendana nyeletuk. Jonah meredakan tawanya. Lalu
ia tersenyum lebar di kemudian.
“Iya.”
Katanya. Langkahnya semakin jauh, melewati orang-orang di lantai Mall yang
licin. Suara kaki mereka terbenam oleh suara mereka yang bercengkerama. Namun
hanya suara tawa; hanya senyum dan tawa Jonathan serta Cendana yang bergema
pada malam itu. Seakan semuanya membeku, jadi hitam-putih, dan dengan tawa, dua
orang menjadi sumbu dunia.
---
Selang
beberapa menit mereka berlari, langkah pun semakin pelan ketika Jonah menyadari
bahwa mereka sudah tidak lagi diikuti. Namun tangannya belum mau melepas
genggamannya dari Cendana. Cendana hanya terdiam, sedikit canggung.
“Kayaknya
udah lolos deh...” Jonah terengah-engah.
“Anu...tangannya...”
Cendana berucap sambil menunjuk tangan Jonah yang keras menggenggam pergelangan
Cendana. Jonah yang menyadarinya, langsung melepas dan jadi canggung sendiri.
“So,
Sori.”
“Nggak
apa-apa, kok...semakin keras gengggaman tangan pria, semakin setia jiwanya.”
Cendana tersenyum. Jonah memalingkan pandangan dengan canggungnya dari senyum Cendana.
Manisnya.
“Ki...kita
ke sana yuk.” Jonah menunjuk sebuah swalayan buku. Mereka berdua masuk ke dalam
dan membaur dengan orang-orang. “Kalau kita nggak ribut, nggak bakal ketahuan.
Sembunyi disini aja dulu.”
Mereka
masuk dengan hati-hati dalam rombongan orang yang sedang memeriksa buku-buku
terbaru. Dengan perlahan mereka melangkah, menyelip diantara orang-orang.
Sesekali tubuh mereka berbentur dengan orang-orang yang lain, yang berkerumun
di sekitar mereka. Swalayan ini cukup luas, dan bukunya banyak sekali. Mungkin
ada yang bisa dibaca, pikir Jonah.
“Kamu
tahu cerita tentang seorang pengarang yang sakit hatinya?”
Cendana
menggeleng. “Nggak tahu...”
“Suatu
hari, seorang penulis jatuh cinta kepada seorang gadis. Disamping semua
perbedaan yang ada, mereka saling membutuhkan.”
Cendana
menyimak. Langkah mereka berdua melambat, namun masih terus maju. Jonah terus
berjalan tanpa melihat ke belakang. Meninggalkan Cendana yang terus menatap
punggungnya.
“...hingga
pada suatu hari...” Jonah melanjutkan. “...Sang penulis sadar bahwa selama ini
sang gadis tidak pernah mencintainya.”
Suasana
senyap. Suara-suara menjadi beku, selain Jonah yang terus bercerita. Hingga
pada akhir cerita, Jonah terdiam. Suara kembali ramai, dan Cendana menatap
punggung Jonah yang menariknya lembut melalui kerumunan orang. Dan dengan
tenang ia menarik balik tangan Jonah, membuatnya berhenti berjalan.
“Nggak
apa-apa, kok...menurutku sang penulis sudah cukup berkorban meskipun
perasaannya nggak pernah terbalas.”
Jonah
senyap. Kepalanya menunduk. Genggaman tangannya makin keras, namun Cendana
tetap tersenyum. Di tengah kerumunan, badannya bergetar. Seperti menahan
sesuatu yang ingin ia keluarkan tapi ia enggan.
“Nangis
aja, nggak apa-apa.” Cendana berucap. Genggaman tangan Jonah semakin melemah,
dan akhirnya terlepas. Cendana bergegas menangkap tangan Jonah dan gantian
memegangnya. Ia genggam dengan keras, namun masih terasa lembut. “Meskipun kamu
nangis sekeras apapun juga...kamu tetap laki-laki kok.” Jonah menggenggam udara
keras-keras. nafasnya berat. Ia menangis, namun tidak ingin dilihat. Cendana
tersenyum. Ia lalu melingkarkan tangannya ke pinggang Jonah, lalu membenamkan
wajahnya ke punggung Jonah. “Dunia berubah, namun perasaan tetap sama. Meskipun
perasaan mencoba hilang kemanapun...nggak ada tempat yang lebih menyenangkan
selain hati.”
Jonah
terdiam. Getaran yang ia rasakan sudah agak terbenam oleh kata-kata yang
diucapkan Cendana. Ia menarik nafas panjang, lalu menghembuskannya dengan
tenang. Cendana tersenyum lebar dalam benaman wajahnya di punggung Jonah.
Seakan tidak mempedulikan sekelilingnya, atau memang mereka yang tidak
dipedulikan orang-orang, pelukan itu berlangsung lama...sampai akhirnya Cendana
melepas pelukan itu dan mundur beberapa langkah ke belakang. Jonah berbalik dan
menemukan Cendana telah berada di tengah kerumunan orang-orang. Badannya yang
mungil sesekali tertutup badan orang-orang lewat yang lebih besar darinya.
“Cendana?”
panggil Jonah. Tiba-tiba dua orang berpakaian hitam tadi muncul di belakang
Cendana, dari balik kerumunan. “Cendana!” Jonah berlari menyusul. Namun
langkahnya terhenti ketika melihat senyuman Cendana. Senyuman lebar yang
manis...tanpa rasa menyesal yang entah kenapa meluluhkan langkahnya.
“Terimakasih
untuk hari ini.” Ucap Cendana. “Kamu manusia yang baik.” Jonah masih terdiam.
Pikirannya susah mencerna semua ini. Mulutnya terlihat ingin mengatakan
sesuatu, namun tertahan di tenggorokan. Cendana memandang ke arah lain, lalu
balik memandang Jonah dan kembali, sekali lagi, tersenyum. “jangan berhenti di
satu jalan buntu, ya?” ia menambahi. “Pasti di suatu tempat, suatu saat...ada
jalan yang bisa kamu lalui dengan tersenyum.” Jonah melegakan ekspresinya. Ia
menghela nafas seakan memaklumi semuanya. Semuanya.
Ia memandangi Cendana saat ia berkata kata-kata terakhir sebelum ia dan dua
orang lainnya menghilang saat kerumunan orang lewat di depan mereka.
Coba tersenyum,
ya?
Lalu
kosong. Suasana ruangan memanas, jadi pengap. Jonah berkeringat. Udara sejuk
yang ia rasakan tidak lagi menyentuh kulitnya. Ia memperhatikan kedua belah
tangannya, sudah berhenti bergetar. Ia lalu tersenyum, lalu tertawa kecil
menertawakan dirinya sendiri. Orang-orang yang lewat di sekitarnya
memandanginya ketika melewatinya, seakan mereka sudah sadar setelah lama dihipnotis.
---
Jonah
keluar dari pintu depan mall, sambil memandang langit. Mendung yang tadi sudah menghilang.
Langit yang terpapar di depan matanya secerah berlian. berkerlip indah.
Memanjakan matanya yang lelah memperhatikan kerumunan.
“Ternyata
nggak jadi hujan, ya?” ia mendengus. Lalu kemudian ia menoleh ke belakang, dan
memperhatikan pintu mall. Sudah mulai sepi. Rupanya yang tadi memakan waktu
juga. Ia menghembuskan nafasnya dengan ringan lalu memasukkan tangannya ke saku
celana kemudian berjalan sambil menggigil. hujan memang tidak jadi turun,
tetapi dingin tetap menusuk. Ia berjalan di bawah naungan lampu jalan yang
mulai redup, sambil sesekali mendongak ke atas, seakan mencari sesuatu yang
tidak ada.
Kini
hanya senyuman yang tersisa dari dirinya malam ini, meninggalkan ingatan akan
kejadian tidak masuk akal yang bila diterka makin membuat penasaran. Dalam
hatinya ia berterimakasih pada Cendana, putri raja yang datang entah dari mana untuk
menyadarkan dirinya bahwa ia tidak sendiri, dan dunia belum berakhir meskipun
hatinya hancur lebur. Dan meskipun dengan cara yang tidak mengenakkan, dingin
malam yang ia rasakan saat ini terasa manis.
“Terimakasih,
putri.” Bisiknya pelan.
Sementara
itu, lampu-lampu di mall bergantian meredup, lalu gelap.